Banyak orang tua menyadari sejak dini bahwa anak mereka tidak berbicara seperti yang diharapkan. Kata-kata mungkin muncul terlambat, bunyi mungkin tidak jelas, atau kemajuan mungkin terasa tidak konsisten. Salah satu pertanyaan paling umum yang diajukan orang tua adalah apakah anak mereka mengalami keterlambatan bicara atau apraksia bicara . Meskipun keduanya tampak serupa di permukaan, keduanya pada dasarnya adalah kondisi yang berbeda, dan memahami perbedaannya dapat secara signifikan memengaruhi jenis dukungan yang dibutuhkan anak.
Keterlambatan bicara umumnya merujuk pada perkembangan kemampuan bicara dan bahasa yang lebih lambat dibandingkan dengan harapan usia. Dalam kasus ini, anak mengikuti pola perkembangan bicara yang tipikal, hanya saja dengan kecepatan yang lebih lambat. Mereka mungkin memahami bahasa dengan baik, mencoba berkomunikasi, dan secara bertahap membaik seiring waktu, paparan, dan terapi. Banyak anak dengan keterlambatan bicara merespons secara positif terhadap terapi bicara yang konsisten dan lingkungan rumah yang mendukung.
Apraksia bicara, yang sering disebut sebagai apraksia bicara masa kanak-kanak (CAS), bukanlah keterlambatan perkembangan tetapi kesulitan perencanaan motorik . Anak tersebut tahu apa yang ingin mereka katakan, tetapi otak mengalami kesulitan dalam mengoordinasikan gerakan-gerakan tepat yang dibutuhkan untuk berbicara. Akibatnya, ucapan mungkin terdengar tidak konsisten, sulit, atau tidak jelas, bahkan ketika anak tersebut memahami bahasa dengan baik. Seorang anak mungkin mengucapkan sebuah kata dengan benar pada suatu hari dan kesulitan dengan kata yang sama pada hari berikutnya.

Perbedaan kunci lainnya terletak pada prediktabilitas. Anak-anak dengan keterlambatan bicara biasanya menunjukkan kemajuan yang stabil dan terukur dari waktu ke waktu. Sebaliknya, anak-anak dengan apraksia bicara mungkin mengalami kemajuan yang tidak merata, sering merasa frustrasi, dan peningkatan yang terbatas meskipun sudah berusaha. Kemampuan bicara mungkin membaik dalam sesi terapi terstruktur tetapi tetap sulit dalam percakapan sehari-hari.
Apraksia bicara juga sering terjadi bersamaan dengan autisme, tantangan pemrosesan sensorik, atau perbedaan neurologis. Hal ini dapat membuat diagnosis lebih kompleks dan mungkin menjelaskan mengapa beberapa anak tidak memberikan respons yang diharapkan terhadap terapi bicara tradisional saja.
Identifikasi dini sangat penting karena apraksia bicara seringkali membutuhkan pendekatan terapi bicara khusus, berulang, dan berbasis motorik , bukan stimulasi bahasa umum. Pada saat yang sama, mendukung sistem saraf anak secara keseluruhan, nutrisi, dan kesiapan belajar dapat membantu menciptakan fondasi yang lebih reseptif untuk terapi.
Keterlambatan Bicara vs Apraksia Bicara: Perbandingan Sederhana
| Fitur | Keterlambatan Bicara | Apraksia Bicara (CAS) |
|---|---|---|
| Apa itu | Perkembangan kemampuan bicara dan berbahasa yang lebih lambat | Kesulitan dalam merencanakan dan mengoordinasikan gerakan bicara. |
| Pemahaman bahasa | Biasanya sesuai usia | Biasanya sesuai usia |
| Konsistensi ucapan | Kesalahan bicara cukup konsisten. | Kesalahan bicara tidak konsisten. |
| Kemampuan meniru kata-kata | Secara umum mampu meniru suara dan kata-kata. | Seringkali sulit untuk ditiru, bahkan kata-kata sederhana sekalipun. |
| Kemajuan dari waktu ke waktu | Perbaikan bertahap dan stabil | Kemajuan yang tidak merata dengan seringnya terjadi stagnasi |
| Upaya yang dibutuhkan untuk berbicara | Ucapan terdengar relatif mudah. | Ucapan terdengar sulit atau berat. |
| Respons terhadap terapi | Memberikan respons yang baik terhadap terapi bicara umum. | Membutuhkan terapi berbasis motorik khusus. |
| Tingkat frustrasi | Ringan hingga sedang | Seringkali tinggi karena kesulitan komunikasi |
| Kemunculan bersama | Dapat terjadi secara terpisah | Seringkali terjadi bersamaan dengan autisme atau tantangan sensorik. |
| Fokus utama dukungan | Paparan dan praktik bahasa | Perencanaan dan pengulangan motorik |
Bagi orang tua, poin terpenting yang perlu diingat adalah: keterlambatan bicara tidak selalu berarti apraksia, dan apraksia tidak berarti kurangnya kecerdasan atau usaha. Perjalanan bicara setiap anak itu unik, dan kemajuannya terlihat berbeda tergantung pada penyebab yang mendasarinya.
Ketika orang tua beralih dari bertanya “Mengapa anak saya belum berbicara?” menjadi “Bagaimana otak dan tubuh anak saya memproses ucapan?”, dukungan menjadi lebih terarah, penuh empati, dan efektif.